Yoma Hatima Senang Dengan Mahasiswa Berfikir Kritis

Oleh : Hamdu Alfaza

patron.id – sosok. Peran Mahasiswa cukup penting dalam mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah. Mahasiswa mampu menghentikan kebijakan pemerintah, baik di pusat maupun di daerah , jika hal itu tidak berpihak pada kepentingan masyarakat. Terlebih mahasiswa dikenal sebagai agent of change. Artinya mahasiswa harus bisa memberikan perubahan yang positif. Tentu hal ini bisa dilakukan banyak cara, misalnya aktif di organisasi Kampus, baik internal maupun eksternal. Hal itu bisa membuat mahasiswa berpikir kritis, ungkapan itu disampaikan Yoma Hatima (28), dosen Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (FKIP PGSD UNTIRTA).

“Saya senang dengan mahasiswa yang kritis, karena memang mereka (mahasiswa) harus berani berargumentasi di kelas maupun di depan publik,” kata Yoma, panggilan akrabnya, memulai percakapan.

Ajakan tentang berpikir kritis, perempuan kelahiran Pandeglang 9 Maret 1990 ini selalu ia serukan kepada Mahasiswanya di kelas agar Mahasiswa selalu dinamis dan dialektis dalam kesehariannya, baik di kampus maupun di lingkungan masyarakat. “Mahasiswa itu harus dinamis dan dialektis agar marwah mahasiswa itu tidak hilang,” tuturnya.

Yoma menilai marwah atau jiwa kritis akan luntur jika mahasiswa bersikap apatis, baik terkait kebijakan-kebijakan kampus maupun pemerintah. “Ini jangan sampai terjadi, karena mahasiswa adalah agent of change. Artinya, mahasiswa harus bisa melakukan perubahan yang berifat positif di lingkungannya,” terangnya.

Untuk menumbuhkan jiwa kritis terhadap mahasiswa, Yoma menyarankan Mahasiswa aktif berorganisasi, baik organisasi internal maupun eksternal. Selain itu, mahasiswa juga bisa membuat forum diskusi kecil-kecilan di kelas maupun di lingkungan Masyarakat, membahas apapun yang sedang ramai di Masyarakat.

“Tentu dengan berorganisasi Mahasiswa bisa mengeluarkan nalar kritisnya karena ini adalah wadahnya, tapi ini bukan berarti antitesa dengan Mahasiswa yang tidak berorganisasi. Maksudnya dua hal itu harus tetap berkesinambungan satu sama lain,” ungkap Yoma, yang mengaku aktif berorganisasi semasa kuliah.

Sejak duduk di bangku kuliah, Yoma aktif di berbagai organisasi kampus diantaranya Himpunan Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Hima Guseda) Untirta sebagai Kepala Departemen Informasi dan Komunikasi 2009, Kumpulan Mahasiswa Pandeglang (Kumandang) sebagai Kepala Biro Kewanitaan 2010, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Untirta sebagai Sekretaris Menteri Advokasi dan Aksi 2011, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Untirta, dan Pengurus Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia (mewakili kampus dalam program pascasarjana Universitas Negeri Jakarta).

Yoma mencoba bernostalgia melalui ingatannya ketika masih aktif di PMII Untirta. Ia bisa menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tidak ia dapatkan. “Saya merasa berkembang di PMII, karena PMII itu organisasi nasional tentunya cakupannya lebih luas. Bisa bertemu dengan orang-orang baru yang memiliki pengalaman dan ilmu yang bermanfaat dari sahabat-sahabat PMII. Tapi bukan berarti saya mengabaikan pengalaman atau ilmu dari organisasi internal, tidak,” kenang Yoma.

Rajin kuliah memang kewajiban, aktif berorganisasi juga tidak kalah keren. Karena, sekali lagi, dengan berorganisasi mahasiswa bisa mengembangkan pemikiran dan mentalnya. Kuliah prioritas, organisasi totalitas, agar kelak bisa menjadi penunjang karir setelah selesai di jenjang perkuliahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *