Tetap Tabah Menjadi Mahasiswa Daring

Oleh : Assyifa

Akhir maret lalu, kampusku tercinta menerbitkan surat edaran yang isinya kurang lebih menerapkan kuliah daring dan segala macam bentuk kegiatan diberhentikan sementara, Peraturan ini berlaku hingga awal april.

Peraturan ini sebagai imbas dari pandemik virus corona disease (Covid-19) yang konon katanya berasal dari Wuhan, virusnya dengan cepat menyebar ke seluruh dunia lalu sampailah di Indonesia, dan mewabah.

Awalnya difikir asyik juga, tidak perlu datang ke kampus tepat waktu, tidak perlu baku hantam dengan polusi dan kehujanan saat di perjalanan, dan tentunya hemat ongkos plus pengeluaran pun menjadi sedikit, Kebijakan ini pun disambut riuh oleh kaum rebahan.

Seminggu kemudian tepatnya awal april lalu, datanglah surat edaran yang isinya kurang lebih ialah kuliah daring akan tetap dilaksanakan, mungkin sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Akibatnya, teman-teman yang ngekos pun secara masal pulang ke kampung halaman. Lucunya lagi, mereka harus tetap bayar sewa kosan sampai batas waktu yang tidak ditentukan pula, ada yang bayar setengahnya, 40 persen, bahkan ada yang harus bayar sampai 100%.

Itu tergantung kebijakan juragan kosan, dengan dalih barang yang tertinggal masih ada dan kalau tidak mau bayar terancam didepak dari kosan, Miris memang.

Bukan hanya dunia nyata saja yang kerepotan mengahadapi ini, dunia maya pun sama, Secara tiba-tiba group chat pun berkembang secara massal,  belum lagi harus download berbagai macam aplikasi media pembelajaran, dan berbagai macam hal lain yang mengakibatkan masalah umum yakni ‘memori penuh’, tentunya sangat merepotkan bagi para pemilik smartphone yang memorinya berkapasitas terterbat

Selain itu, banyak kejadian unik saat mata kuliah berlangsung, entah karena saking menikmati kuliah daring ini atau bagaimana, setiap dosen berkata sesuatu secara ajaib para mahasiswa kompak menjawab “baik bu, siap pak, terimakasih” dan segala macam kata yang seakan setuju dan sudah dimengerti.

Anehnya, group sebelah yang ‘tanpa dosen’ pun ramai, banyak pernyataan keluhan yang dilontarkan, mengeluh tidak mengerti, dan lain sebagainya.

Saya yang termasuk golongan penyimak, hanya tertawa dalam keheningan. Bukan hanya itu, mahasiswa pun dibuat takjub dengan berbagai kebijakan para dosen untuk mengantisipasi ketidakefektifan pembelajaran daring, mulai dari absen acak saat kuliah berlangsung, hingga kuis dadakan.

Hari demi hari berlalu, mulailah satu persatu masalah menghampiri, paling umum ialah banyaknya tugas yang diberikan Dosen kepada mahasiswanya, bahkan ada yang tidak menjelaskan materi yang diajarkan, hanya memberikan materi saja, serta  tidak lupa pula memberikan tugas dan pemberitahuan pengumpulan deadline, padahal mata kuliah itu terhitung penting.

Baca Juga:  Pelantikan, Raker dan Tausyiah Kebangsaan Pengurus Komisariat PMII UIN SMH Banten

Ternyata usut punya usut kerabat patron.id yang budiman, berbagai mahasiswa jurusan lain pun memiliki masalah yang sama.

Tidak hanya itu, masalah lainnya ialah quota internet yang konon katanya akan disubsidi berdasarkan surat edaran yang diterima melalui pesan berantai WhatsApp yang kurang lebih isinya mengenai subsidi internet untuk mendukung sistem pembelajaran daring serta pengurangan UKT sebesar 10%.

Selentingan soal kebijakan itu tentu diaambut hangat mahasiswa, Namun Beberapa hari kemudian kami mendengar kabar tersebut tidak jadi diberlakukan, dengan alasan ada pengurangan dana dari putat.

Bahkan banyak mahasiswa yang menyatakan bahwa wacana pemberian quota dan penurunan UKT hanyalah prank. Saking kecewanya, mahasiswa yang tadinya mengucap puji syukur, malah berbalik nyinyir di berbagai sosial media, tidak sedikit yang melontarkan kritik, bahkan membandingkan kampus ini dan kampus itu, dan menjadi perbincangan hangat di berbagai sosial media.

Kabar terakhir yang saya dengar ialah adanya petisi di kalangan mahasiswa  yang menuntut subsidi internet serta pengurangan UKT 10%, sampai sekarang pun saya belum tahu pekembangan lebih lanjutnya bagaimana.

Selain masalah itu, masalah lain yang tidak kalah penting ialah masalah sinyal yang selalu menjadi alasan nomor wahid ketika telat absen, dibarengi narasi hujan petir membuat masalah kuliah daring ini semakin menjadi-jadi.

Dengan berbagai masalah yang dihadapi, bukan berarti semakin bermalas-malasan, selalu mengeluh terhadap apa yang terjadi, dan jangan jadikan masalah-masalah yang terjadi menghambat kita untuk menjadi  produktif.

Banyak juga manfaat dengan tetap di Rumah saja, diantaranya dapat memutus rantai penyebaran Covid-19, lebih leluasa untuk beribadah apalagi bertepatan dengan  bulan suci Ramadhan, dan waktu istirahat yang bisa kita dapatkan.

Serta, harus banyak  bersyukur terhadap apa yang Allah beri, biarlah masalah subsidi dan pengurangan UKT menjadi misteri untuk saat ini, semoga pandemik ini cepat berakhir dan bisa kembali beraktifitas seperti dulu lagi.

Bagaimana tanggapan anda kerabat patron.id yang budiman?

Conveyor Of Public Opinion merupakan Mahasiswa Aktif Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten, Jurusan Biologi Fakultas Sains.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *