Senja di Bulan Desember

Dipenghujung tahun saat senja menjemput pulang kembali pada pengistirahatan malam, acap kali ingin ku abadikan alam dalam puisi bertinta air mata, begitulah aku kendati dengan segala keresahan

Tiap semenit dua menit mata terpejam, sengaja menjatuhkan peluh yang menggenang pada kantung mata, sambil terus menulis menyusun cerita dalam satu tahun terakhir yang penuh perjalanan tak terkira

Riuh bisik angin menyapu telinga, membawa serangkaian teka-teki tanya tanpa jawaban, serangkaian percakapan pun usang tentang definisi bahagia yang tercatat dalam list impian

Sampai lah pada kesimpulan, Desember adalah tentang rollercoaster kehidupan penuh haru biru. Sepanjang yang ku tangkap banyak dari mereka yang bertemu dalam genggamanku, ada pula dari mereka yang menitip luka serta goresan kekecewaan tepat di hadapanku.

Banyak juga yang merayakan datangnya cinta dan kasih lewat senyuman manis serta mata yang berbicara kebahagiaan, adapula yang mengisi warnanya dengan isak tangis serta sembab pada kedua kelopak netranya, tentu aku salah satunya

Sarwa derita yang memabukan,
Disinilah aku memandang semuanya meratapi nasib pelik yang menyesakkan, oleh sebab Tuhan belum mempertemukan aku pada pelangi-Nya, sambil mengirim semilir angin membawa pesan arti kesabaran

Kepada Desember sebagai akhir penutup tahun, aku berdiri memberi kesaksian dengan berbicara pada alam, berikan aku lembaran baru agar bisa ku tulis kembali sebuah cerita yang banyak indahnya, hingga membuat lupa bahwa luka lampau ku mulai terlupakan, dan semoga setiap jiwa yang tengah berduka selalu diberikan kekuatan menghadapinya.

R

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *