Riana Laila Sari Masih Ingin Jadi Pengusaha

patron.id – sosok. Menjadi pengusaha merupakan impian bagi setiap orang. Terlebih diusia muda sudah mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Punya banyak uang, bisa mengatur waktu dan bebas berkreasi. Untuk mencapai impain itu seorang pengusaha harus pandai memulai usaha, mengelola, dan mengembangkannya menjadi bisnis yang produktif. Hal ini yang dicita-citakan Riana Laila Sari.

Perempuan berusia 41 tahun kelahiran Serang 31 Agustus 1977 ini mengaku menjadi pengusaha merupakan cita-cita yang sudah tertanam sejak lama. Alasannya lantaran bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. “Di situ muncul kepuasan tersendiri karena bisa meng-hire (mempekerjakan) orang,” ungkap Riana, panggilan akrabnya.

Jiwa wirausaha mulai terlihat sejak Riana lulus SMA. Hal itu terbukti ketika perempuan berkudung ini membuka usaha jasa foto copy dan konter handphone. Salah satu jenis usaha yang dibangun Riana berjalan baik. Omset mulai merangkak naik. Kerjasama dengan berbagai pihak pun menuai hasil. Konter handphone miliknya dilirik salah satu provider kartu seluler untuk dijadikan subdealer. “Alhamdulillah berkat menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, telkomsel yang paling lama, itu sejak 2000 sampai 2012,” tutur Riana mengkisahkan.

Singkat cerita, pada tahun 2003 Riana mencoba membagi waktu antara berwirausaha dengan bekerja sebagai tenaga honorer di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Serang. Perempuan lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Adminitrasi (STIA) Maulana Yusuf Banten ini sempat kaget ketika menerima gajih pertama sebagai tenaga honorer. “Ya namanya juga masih honorer, gajih cuma 400 ribu perbulan,” ujar Riana, sambil menahan tawa.

Namun pada tahun 2008 saat ia diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS), perempuan yang memiliki hobi traveling ini mulai dihadang berbagai rintangan. Mulai dari bisnis usahanya berjalan tidak fokus, ditinggal beberapa karyawan hingga persoalan masuk ke ranah pibadi.

Baca Juga :  Rachmi Yulianti, S.Sos,M.Si

saat itu Riana merasa bimbang dengan pola kerja PNS yang memiliki tanggung jawab  dirasa berat. “tapi Kalau soal usaha sih alasan utamanya lebih ke privasi, tapi kalau soal status PNS memang gak baik kalo harus dibagi, Secara pirbadi juga gak mau karena khawatir malah tambah berantakan, harus milih salah satu,” terangnya.

Kebimbangan Riana dalam menentukan pilihan tidaklah mudah ia lewati, memilih antara melanjutkan berwirausaha atau mempertahankan karirnya. Keputusan itu harus segera diambil, apapun resikonya. Riana sadar betul dikalangan keluarga besarnya memang kebanyakan memiliki karir sebagai PNS atau biasa disebut abdi negara, namun justru ia berharap memiliki profesi yang berbeda. Meskipun demikian, akhirnya Riana menentukan pilihannya untuk mempertahankan karirnya.

Saat ini ia bertugas di KPU Provinsi Banten sebagai Kepala Sub Bagian Program dan Data. “Pengen punya karir yang beda dari kalangan keluarga malah jadinya sama, PNS juga,” ucap anak kedua dari lima bersaudara ini.

Meski Riana telah menempati posisi jabatan strategis di KPU Provinsi Banten, namun tak membuatnya puas diri. Hati kecilnya tentang cita-cita menjadi pengusaha masih berkobar. Karena baginya di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Seperti moto hidupnya, gantungkan cita-citamu setinggi langit. “Selama kita masih punya semangat, punya tujuan hidup, insya allah cita-cita bisa diraih karena itu bisa memovitiasi diri sendiri,” pungkas Riana, mengakhiri obrolannya.

 

 

Sosok Kasubag program dan data KPU Provinsi Banten

 

Share Berita ini :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •