Papua dan Kita Semua Sama-Sama Binatang

Oleh : Teguh Pati Ajidarma

“Dasar kamu monyet!!!”

Ada apa dengan binatang satu ini? Mereka disebut-sebutkan sebagai kata pengganti ketika kita merasa kesal. Kenapa tidak dengan Jerapah atau Badak? Atau masih banyak nama hewan lainnya. Bukankah kita sudah menyepakati apa yang pernah dibilang oleh guru kita? Cak Nun pernah bilang yang disadur dengan teori Darwin kalau manusia berasal dari hewan yang berevolusi terus menerus hingga menjadi manusia, yang membedakan manusia dengan hewan hanya satu, yakni akal.

Saya meyakini setiap mahluk yang ada di muka numi ini adalah ciptaan-Nya, dan saya masih meyakini siapa saja yang mengolok-olok ciptaan-Nya sama halnya menghina-Nya.

Acap kali hewan yang satu ini terseret dalam pusaran lembah konflik manusia, padahal monyet tidak tau apa-apa dengan persoalan konflik manusia. Dibeberapa kesempatan aaya pernah kebingungan untuk membedakan mana manusia mana binatang. Pasalnya kadang yang berpenampilan manusia, tapi perangainya seperti binatang, ada juga yang sebaliknya.

Seperti yang saya paparkan diatas, bahwa yang membedakan manusia dengan binatang adalah akal. Jadilah manusia seutuhnya manusia, manusia yang pengasih lagi penyayang, senantiasa menjaga perdamaian dengan segala kehormatan. Karena, siapa saja yang menghormati dirinya sendiri maka akan dihormati orang disekelilingnya.

Hubungan Papua dengan Monyet

Meletusnya konflik horizontal di Monokwari Papua pada 19 Agustus 2019 merupakan mata rantai dari penggunaan kata “Monyet” kepada mahasiswa Papua. Dengan demikian, Gubernur Papua Lukas Enembe menegaskan “Bahwa kami manusia! Bukan bangsa monyet.” Pertanyaannya adalah, sebetulnya siapa yang mengira saudara-saudara itu monyet? Ada mengira dan ada merasa. Tergantung bagaimana para pembaca menafsirkan dengan kasus yang terjadi baru-baru ini.

Kemudian, jika ada orang yang mengira kalau saudara-saudara kita ini monyet siapa? Atasnama kelembagaan atau atas nama individu? Jika memang atas nama lembaga, tentunya penulis sangat menyayangkan.

Namun, jika kita tarik penjelasan di atas, tidak ada hubungannya antara saudara-saudara kita yang di Papua dengan monyet. Yang membedakan manusia dengan monyet bukan dari fisiknya, melainkan pikirannya. Rakus, tidak punya budi pekerti, tidak santun dan lain-lain adalah hal yang sangat berkaitan dengan sifat-sifat kehewanan. Maka dari itu, ada manusia yang seperti ninatang dan ada pula binatang yang seperti manusia.

Yang saya kecewakan dalam aksi masa kemarin bukan persoalan konten issue yang ditampilkan oleh saudara-saudara kita di Papua, tapi efek gelombang aksi masa yang mereka tidak tahu apa-apa tapi berusaha angkat bicara persoalan yang terjadi, dan tidak sedikit hal yang sifatnya provokatif. Dalam hal ini, saya hanya menegaskan kalau monyet itu tidak punya salah.

Pemerintah Perlu Menggunakan Paham PMII

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah organisasi kemahasiswaan yang berideologikan Islam Ahlussunah Wal Jama’ah. Hadir atas izin dan ridhoi Nahdlatul ‘Ulama (NU) yang berpegang teguh pada 4 prinsip :

  1. Tawassuth dan I’tidal, Tawassuth atau dengan kata lain artinya sikap tengah-tengah, mengambil jalan tengah atau pertengahan. Sedangkan I’tidal mempunyai arti tegak lurus, tidak condong ke kanan dan ke kiri atau berlaku adil dan tidak berpihak kecuali pada yang benar. Sikap Tawassuth dan I’tidal ini berintikan kepada prinsip hidup yang menjunjung tinggi berlaku adil dan lurus ditengah-tengah kehidupan bersama, maka dengan sikap dasar ini akan selalu menjadi panutan yang bersikap dan bertindak lurus dan bersifat membangun serta menghindari segala bentuk pendekatan yang bersifat tatharruf (ekstrem)
  2. Tasamuh (Toleransi) yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Sikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah keagamaan, terutama hal-hal yang bersifat furu’ atau menjadi masalah khilafiyyah, serta dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan.
  3. Tawazun, yang memiliki arti seimbang, tidak berat sebelah atau tidak berlebihan dalam berhubungan, baik yang bersifat antar individu, antar struktur sosial, antar negara dan rakyatnya. Selain itu, sikap tawazun juga mengajarkan kita untuk seimbang dalam berkhidmah kepada Allah SWT, kepada sesama manusia serta kepada lingkungan hidupnya, serta menyelaraskan kepentingan masa lalu, masa kini dan masa datang.
  4. Amar Ma’ruf Nahi Munkar, aelalu memiliki kepekaan guna mendorong perilaku yang baik, berguna dan bermanfaat bagi kehidupan bersama. Selanjutnya, menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan.

Teruntuk Teman-Teman dan Saudara-Saudara di Papua

Teruntuk saudara-saudaraku di Papua dan Papua Barat. Sejatinya tidak ada hal yang membuat kita bertentangan. Bukan persoalan jarak atau pun warna, bukan soal auku atau pun budaya. Karena kita sama-sama ditemukan dan dipersatukan oleh Indonesia tercinta. Yang membuat kita bertentangan adalah sifat-sifat kebinatangan yang terjadi di negeri tercinta ini. Sifat yang rakus, munafik yang sangat identik dengan sifat-sifat kehewanan.

Bukan satu atau dua hal yang seperti demikian. Korupsi, intoleransi, rasialisme dan yang lainnya yang merugikan manusia adalah sifat yang mutlak dekat dengan sifat kehewanan. Bukan pula berarti mereka adalah hewan, tapi manusia yang belum bisa menjadi manusia, manusia yang masih terperangkap dalam lingkaran kehewanan.

Terakhir bagi saya, Papua tetaplah Papua. Jangan seperti Jawa, Sumatra atau pulau-pulau lainnya. Tetaplah menjadi Papua yang Pancasilais, Papua yang berbhinneka tunggal ika, Papua yang merah putih. Papua yang mempunyai integritas kebangsaan yang penuh harkat dan martabat.

Penulis merupakan Ketua Umum PMII Kabupaten Lebak

Editor : Renna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *