Nasib Si Tua yang Sudah Berumur 191 Tahun

Oleh : Nukman Faluty

Penyebutan bagi manusia yang sudah berumur 60-100 Tahun atau lebih disebut “Tua”. Tuanya manusia ditandai dengan perubahan pada tekstur wajah dan anggota tubuh lainnya; wajah keriput, kulit semakin mengerut, pikun, dan lain sebagainya. Apalagi sudah berumur satu Abad lebih biasanya sudah tiada, walaupun ‘ada’ sudah tidak bisa mengingat apapun, tidak berbicara, tidak bisa jalan maju mundurpun sama, dan tidak bisa lainnya.

Dari beberapa hal yang dijelaskan tersebut merujuk pada manusia tua sudah berumur yang masih menikmati hidup, tanpa tidak bisa melakukan apapun. Tak lain hanya pasrah menunggu ajal menjemputnya. Dan inilah merupakan konsekuensi kehidupan yang harus diterima akibat keadaan, nasib si tua memang seperti itu, apalagi si tua yang sudah berumur satu tahun abad lebih 191 tahun tepatnya. Makin-makin deh nasibnya.

Si Tua ini bernama ‘Lebak’ bukan manusia, jin atau makhluk hidup lainnya tapi ia adalah Kabupaten. Analogi si Tua diatas memang pada keadaan fisik manusia bukan daerah/Kabupaten yang sudah berumur. Tetapi memiliki kesamaan dalam analogi peradaban/perkembangan kehidupannya (Sosial, Politik, Budaya & Ekonomi) maka mesti saya uraikan tulisan ini dengan logika berfikir si “Tua” tersebut.

Si ‘Tua’ yakni; Kabupaten Lebak berdiri pada tahun 1828 dengan terbitnya Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 2 Desember 1828, Staatsblad nomor 81 tahun 1828 (wikipedia.org). Pangeran Sendjaya R. Djamil hingga Iti Octavia Jayabaya. Dari kolonial Hindia Belanda hingga Indonesia, dari tahun 1828 sampai 2019, dari muda hingga tua dan dari lahir hingga mati atau mati kemudian bangkit? Rasanya tidak mungkin terkecuali mati suri.

Pelbagai permasalahan si Tua, semakin menjadi-jadi bukan hanya tidak bisa jalan ataupun lari, berdiri saja tak mampu. Apalagi cari uang. Berharap dikasihani, makan dan minum disuapin, untuk jalan ke tempat yang dia inginkan mesti dianter. Sungguh merepotkan. Sehingga permasalahan ini bagi keluarganya si ‘Tua’ diwajarkan. Tapi tidak diwajarkan untuk si Tua Kabupaten Lebak ini yang seakan sama dengan logika si Tua manusia ini tidak bisa bangun/bangkit ataupun berdiri atas ketertinggalannya dengan kabupaten/kota lain, tidak bisa cari uang anggaran daerah saja sampai defisit, dan berharap dikasihani oleh hibah dari anggaran nasional, proyek nasional yang di Lebak. Malah bikin repot rakyatnya, repot memberi masukan demonstrasi sana-sini tapi tidak didengar. Ya karena sudah ‘Tua’ pendengaranpun sudah tidak bisa alias tuli. Maka logika ‘Tua’ Manusia tidak bisa disamakan dengan logika ‘Tua’ umurnya Kabupaten Lebak ini mestinya. Kecuali ingin disamakan.

Baca Juga :  Menyoal Pendidikan di Indonesia

Dengan akhir kata si ‘Tua’ bisa menjadi “Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi-jadi.” Dengan logika berfikir seperti itu, tua umurnya tidak menjadi hambatan atas keadaan sosio-kultural, sosio-politik dan sosio-ekonomi di Kabupaten Lebak. Semua bisa diatasi dengan logika berfikir yang baik serta tidak merepotkan siapapun asal anda tidak menjadi si ‘Tua’ yang tuli dan bisu. Pilihan ada dua menjadi si ‘Tua’ yang tidak bisa melakukan hal apapun, tuli dan bisu atau menjadi si ‘Tua’ keladi “makin tua makin menjadi-jadi.”

Tentang Penulis

Nukman Faluty adalah seorang pria kelahiran Lebak-Banten. Lahir pada 20 September 1997. Ia sedang menempuh studinya SI Ilmu Pemerintahan di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dengan pernah menjabat Ketua Rayon PMII Fisip Untirta 2016-2017, Direktur Media Sahabat PK PMII Untirta 2017-2018, Sekjend IMALA PC Serang Raya 2017-2018 dan 2018 sampai sekarang Ketua Umum Cabang IMALA Serang Raya. Aktif di berbagai lembaga atau organisasi. Penulis juga kerap menulis sejumlah artikel di berbagai media. Baik yang pernah dimuat di majalah, media cetak maupun media online.

Penulis dapat dihubungi melalui: [email protected]
085212454173 (WA)

Share Berita ini :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •