Mungkinkah kemacetan akan Berakhir?

Mungkinkah Kemacetan akan berakhir?
Saya rasa diksi itu tepat untuk menggambarkan kondisi jalanan terkini Kota Serang, dimana ada pelbagai alasan, misalnya Kemarin sore ketika Saya naik Angkot dari Ciracas menuju Terminal Pakupatan, kemacetan kembali terpampang nyata dihadapan Saya, tak kunjung terurai, Perjalanan yang harusnya bisa ditempuh kurang lebih setengah jam, justru memakan waktu kira-kira satu jam.

Tampak jelas raut Penumpang begitu kesal, bosan dan bahkan jengkel ketika rentetan pengguna sepeda motor berkendara seenaknya dengan menggunakan ruang pejalan kaki menjadi jalur khusus Sepeda Motor, silih berganti menyalip kendaraan yang ada didepannya, dengan angkuhnya tanpa pernah berpikir bahwa prilakunya itu bisa membahayakan dirinya sendiri dan pengendara lain.

Jalanan Kota Serang kian Hari kian suram membuat Saya merasa prihatin, pasalnya upaya Pemerintahan untuk mengurangi kemacetan malah menghasilkan buah yang sebaliknya, bukannya berkurang kemacetan di Kota Serang malah semakin bertambah.

Fenomena kemacetan di Kota Serang ini yang menyatakan bahwa dengan bertambahnya luas jalan maka kemacetan akan bisa dikurangi, Namun fakta membuktikan bahwa bertambahnya luas jalan berbanding lurus dengan diikuti bertambahnya volume kendaraan yang membuat kemacetan, bahkan semakin bertambah.

Bila Saya mencoba mendekontruksi ulang seolah Penambahan luas jalan justeru menjadi pemantik, penyemangat bagi Masyarakat untuk membeli dan menambah kendaraan pribadinya, terlebih bukan hanya kendaraan pribadi, namun angkutan umum, taksi, dan gojek juga kian bertambah Volumenya, akhirnya penulis bila berpijak pada fakta diatas maka penlis tanpa sungkan menyatakan bahwa kemacetan di Kota Serang tidak akan pernah berakhir.

Apapun upaya yang dilakukan Pemerintah tanpa adanya perubahan prilaku Masyarakat yang rakus akan kendaraan dan jalanan maka kemacetan akan tetap awet, Kalau kita mau mengubah kondisi ini, maka budaya yang menjadikan kendaraan Pribadi sebagai simbol status tingkat Strata sosial yang selama ini telah menyandera jalanan Kota Serang sudah selayaknya dihilangkan, begitupun dengan penyedia jasa angkutan umum sudah selayaknya tidak terus menerus menambah, Bus Antar Kota misalnya Murni dan Asli yang selama ini membuat jalanan Kota Serang semakin semrawut agar ditertibkan, karena jika hal ini tidak dilakukan, jangan pernah berharap Kota Serang akan terbebas dari kemacetan.

Bahkan bila dalam 10 Tahun kedepan wajah jalanan Kota Serang tak juga berubah, maka bersiaplah nantinya jalanan Kota Serang akan semakin padat, bahkan mungkin tidak bisa digunakan oleh para pejalan kaki, Penulis mengajak mari bersama-sama membangun Kota Serang menjadi lebih baik lagi, Pemerintah melakukan apa yang menjadi tugasnya dan Kita melakukan apa yang menjadi kewajiban kita.

Oleh : Ahmad Adi Prawiradika
Mahasiswa UIN SMH Banten

Editor : Aldy Madagi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *