Menyoal Pendidikan di Indonesia

Oleh : Siti Miftahul Janah

patron.id – Pendidikan menurut definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah suatu proses mengubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran, latihan, proses, perbuatan dan cara mendidik dan tentunya menjadi penting dalam kehidupan kita. Oleh karena itu setiap individu berhak mendapatkan pendidikan.

Banyaknya persoalan dasar yang dihadapi di dalam dunia pendidikan mengakibatkan berbagai ekses misalnya rendahnya mutu dan terbatasnya akses pendidikan. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, mutu dan daya saing pendidikan Indonesia sangat rendah, terbukti misalnya, saat ini Indonesia menduduki peringkat Ke-62 dari 72 negara. Miris bukan? Lebih miris lagi bila melihat secara kuantitatif misalnya membedah persoalan pendidikan dari kerangka pengunaan alokasi anggaran yang dikeluarkan dari Anggaran Pandapatan dan Belanja Negara (APBN) sebanyak 20% yang digelontorkan, tapi tidak berbanding lurus dengan fasilitasnya pendidikan di beberapa daerah. Kurangnya tenaga pengajar, hingga rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengikuti pendidikan karena permasalahan ekonomi dan kebutuhan hidup.

Berdasarkan temuan dilapangan ada beberapa kasus yang berkembang, misalnya masih ada anak-anak yang memiliki keinginan untuk bersekolah, akan tetapi calon peserta didik masih dibebani harus membantu keluarga untuk mencukupi kebutuhan hidup. Ada juga yang menjadikan pendidikan sebagai commodity sebuah industri yang amat menjanjikan, bukan lagi sebagai upaya pembangkitan kesadaran kritis. Hal ini dapat dilihat dari adanya praktik jual-beli ijazah, jual-beli gelar hingga jual-beli nilai, betapa ironisnya bagi ‘Si Miskin pendidikan’ hanyalah sebuah mimpi.

2 Mei merupakan momentum yang setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, momentum peringatan pentingnya arti pendidikan bagi anak negeri. Akan tetapi masih sering kita jumpai di berbagai daerah, kewajiban pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan dasar hingga saat ini masih sangat jauh dari yang diharapkan. Masih banyak penduduk Indonesia yang belum tersentuh pendidikan, padahal dapat kita rasakan bersama menjadi seseorang yang terdidik itu sangat penting karena tidak hanya memberi kita pengetahuan, melainkan pendidikan juga mengajarkan kita sopan santun, etika-etiket, norma hukum, bahkan memupuk kita menjadi individu dewasa, individu yang mampu merencanakan masa depan dan mengambil keputusan yang tepat dalam hidup, dan hal-hal yang baik dan benar. Seperti yang diungkapkan Daoed Joesoef tentang pentingnya pendidikan:

“Pendidikan merupakan segala bidang penghidupan, dalam memilih dan membina hidup yang baik, yang sesuai dengan martabat Manusia”.

UNICEF tahun 2016 merilis data sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan, yakni sebanyak 600 ribu anak usia Sekolah Dasar (SD), dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP). Senada dengan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) di tingkat Provinsi dan Kabupaten, Kota menunjukkan terdapat kelompok anak-anak tertentu yang terkena dampak paling rentan berasal dari keluarga miskin sehingga tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Belum lagi, bila membandingkan dengan data yang disajikan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada, hasil penelitian dan hasil bantuan siswa miskin di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan.

Baca Juga :  Tantangan Baru Masyarakat Demokrasi di Era Digital

Menjadi semakin menarik karena betapapun ironisnya ada sebanyak 47,3 persen responden menjawab tidak bersekolah lagi karena masalah biaya, 31% karena ingin membantu orang tua dengan berkerja, dan 9,4% karena ingin seperti pesantren atau mengambil kursus keterampilan lainnya. Mereka yang tidak dapat melanjutkan sekolah ini sebagian besar berijazah terakhir Sekolah Dasar (42,1%) maupun tidak memiliki ijazah (30,7%). Meski demikian, rencana untuk menyekolahkan anak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi ternyata cukup besar, yakni 93,9%. Hanya 6,1% yang menyatakan tidak memiliki rencana untuk itu.

Provinsi Banten merupakan daerah penyangga Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), hanya selemparan batu ke Ibu Kota Jakarta, begitu lekat dengan ketertinggalan. Korupsi, politik dinasti, kemiskinan, pengangguran, sekolah dan infrastruktur rusak adalah sebutan lain daerah ini. Semakin Naif Bukan? Seolah kita masuk dalam labirin dagelan yang tidak berkesudahan. Dari sekian banyak persoalan, pendidikan menjadi sorotan publik di daerah yang mengaku diisi ribuan kiai dan santri ini. BPS pada tahun 2016 mencatat rata-rata lama sekolah di Banten baru mencapai 8,37 tahun. Kota Tangerang Selatan memiliki lama rata-rata sekolah 11,58 tahun, Lebak hanya 6,19 tahun, Pandeglang 6,62 tahun dan Kabupaten Serang 6,98 tahun, ini merupakan angka yang semakin fantastis bukan?

Pada akhirnya harus diakui Penulis, bahwa memang tidak semua manusia dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang diharapkan dan diinginkannya. Namun bila menilai secara objektif, pendidikan menjadi satu kebutuhan yang sangat penting dalam mengalami perubahan dan kemajuan di saat ini. Karena pendidikan merupakan proses belajar yang tidak akan pernah berhenti sejak seseorang lahir di dunia ini hingga akhir hayatnya.

Siti Miftahul Janah, adalah Mahasiwi Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin (UIN SMH) Banten, Jurusan Bimbingan Konseling Islam, Fakultas Dakwah, Semester IV.

Editor : Imam

Share Berita ini :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •