Mengenal Lebih Dekat GBM, Wadah Pemersatu Bangsa

Gerakan Balad Mengaji (GBM) merupakan Sebuah gerakan yang digagas oleh para ulama, tokoh agama, pimpinan pondok pesantren, serta para tokoh masyarakat di Banten dan Jawa Barat.

patron.id– Isu SARA kembali muncul ke permukaan. Berbagai persoalan sosial dikemas dalam bentuk ujaran kebencian, berita bohong atau hoax, serta yang dapat menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat. Isu Suku Agama Ras dan Antar golongan (SARA) ini mudah terjadi di Indonesia yang kental akan keragaman suku, agama, ras dan etnis.

Tak hanya itu, isu SARA juga sering ditunggangi kepentingan politik untuk menggulingkan lawan demi meraup suara di ajang pesta demokrasi. Apalagi di tahun 2019 nanti pelaksanaan pemilihan legislatif (pileg) bersamaan dengan pemilihan presiden (pilpres). Tentu hal ini akan semakin sensitif dan panas diperbincangkan lantaran berbeda dukungan dan pilihan calon wakil rakyat maupun calon pemimpin negara.

Kondisi tersebut membuat sejumlah ulama diIndonesia, terutama Banten, peduli dan prihatin terhadap persaudaraan dan persatuan bangsa serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dikhawatirkan terpecah belah. Para ulama Banten berupaya mencari solusi dari berbagai isu SARA yang dimainkan oleh sejumlah kelompok kepentingan. Upaya tersebut diharapkan para ulama di Banten mampu menangkal serta mereduksi  persoalan-persoalan sosial yang hangat diperbincangkan di masyarakat yang mengancam persaudaraan maupun persatuan bangsa.

Maka lahirlah Gerakan Balad Mengaji (GBM). Sebuah gerakan yang digagas oleh para ulama, tokoh agama, pimpinan pondok pesantren, serta para tokoh masyarakat di Banten dan Jawa Barat.

Di Banten, para pelopor GBM ini tersebar di beberapa kabupaten/kota. Diantaranya KH Hamdan Suhaemi (Kabupaten Serang), KH Arpan Bahrudin (Kabupaten Pandeglang), KH Ato (Kabupaten Lebak) dan KH Amin Faizi (Kota Cilegon). GBM digagas oleh Handi Kusnandi 

Kebanyakan dari mereka biasa disebut “kiai kampung”, bukan tokoh terkenal tetapi memiliki akar yang kuat di tengah masyarakat tempat tinggalnya masing-masing. Mereka menaruh kepedulian dan perhatian yang besar terhadap perkembangan situasi sosial belakangan ini yang semakin diwarnai oleh pengelompokan-pengelompokan, saling hujat, saling melecehkan, ujaran kebencian, penyebaran hoax yang semakin marak. Situasi ini dinilai para ulama dan tokoh masyarakat Banten telah melunturkan nilai-nilai “kebaladan” yakni persaudaraan, pertemanan, keakraban, kebersamaan,toleransi, dan nilai-nilai yang memperkuat keutuhan bangsa.

Kesamaan pandangan itulah yang mempertemukan para ulama dan tokoh masyarakat bersepakat mencanangkan Gerakan Balad Mengaji. Sebuah gerakan yang dibentuk bagian dari upaya para ulama dan tokoh masyarakat untuk menumbuhkan kembali semangat kebaladan di tengah masyarakat, melalui kegiatan diskusi agama terfokus, musyawarah kebangsaan, do’a dan dzikir bersama, silaturahmi, dan pengajian keliling dari kampung ke kampung.

Koordinator Gerakan Mengaji Balad Kabupaten Serang KH Hamdan Suhaemi menjelaskan bahwa gerakan ini merupakan salah satu upaya untuk mereduksi konflik-konflik sosial yang sudah terkotak-kotak sesuai golongannya akibat dari perbedaan dukungan dan pilihan dalam konteks pileg maupun pilpres 2019.

“Hal itu bisa menyita waktu, pikiran dan tenaga kita untuk selalu memikirkan nasib bangsa ini ke depan. Karena keutuhan, persatuan dan persaudaraan sesama anak bangsa jauh lebih besar manfaatnya, dari pada sekedar mendukung atau memilih pemimpin. Kalau pun pimpinan itu penting memang benar, tapi lebih penting adalah persatuan kita.” ujarnya, saat pertemuan acara Halaqah Ulama Banten, Minggu (9/12/2018) kemarin.

Selain itu, ia juga mengungkapkan gerakan ini bertujuan untuk meluruskan konsep dan gagasan dalam upaya menguatkan persaudaraan sesama anak bangsa dengan konsep mengaji. “Lewat mengaji ini kita bertabayun, artinya penjelasan, pemahamaan dan pengertian dapat diambil dan tidak lagi dengan cara-cara untuk mengatakan bohong atau hoax.” ungkapnya.

Berdasarkan sejarah, KH Hamdan Suhaemi meyakini konsep ini merupakan kelanjutan dari tradisi yang sudah lama dibangun oleh nenek moyang yaitu para ulama. Namun ia menegaskan bahwa GBM bukan berarti menjadi berbeda dari pengajian-pengajian pada umumnya yang sudah ada dan terselenggara di masjelis maupun di pondok pesantren.

“Secara historis, ini memang merupakan kelanjutan dari tradisi yang sudah dibangun sejak dahulu kala. Tetapi balad mengaji ini bukan berarti menjadi pembeda atau berbeda dari pengajian-pengajian pada umumnya yang sudah ada dan terselenggara di masjelis-majelis dan pondok-pondok pesantren.” katanya.

Aktivitas GBM di Banten

Aktivitas GBM di Banten sudah dimulai sejak acara Halaqah Ulama Banten digelar Minggu kemarin (9/12/2018) di Pondok Pesantren Al-Kallam, Kampung Kadudahu Desa Banyuresmi Kecamatan Jiput Kabupaten Pandeglang. Mereka akan melakukan beberapa kegiatan yang sesuai dengan kapasitas dan latar belakang mereka sebagai tokoh dan pemuka agama. Mereka berdiskusi membahas isu-isu aktual yang sedang menjadi perbincangan hangat saat ini, yakni hukum mencaci maki umaro, sekaligus mendeklarasikan GBM tingkat kabupaten/kota.

KH Hamdan Suhaemi menegaskan bahwa GBM lebih cenderung pada bagaimana menguatkan tali persaudaraan sesama anak bangsa. Meski di sesi acara terdapat deklarasi GBM tingkat kabupaten/kota, namun ia meyakini hal itu bukan tujuan pada satu dukungan atau pilihan calon pemimpin.

“Gerakan Balad mengaji ini lebih condong kepada bagaimana menguatkan tali persaudaraan sesama anak bangsa. Saya pahami konsep awal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Mas Handi, bahwa gerakan balad mengaji ini hanya untuk mendudukan pemahaman agama pada konteks yang tepat, Sekaligus sebagai ajang untuk mempererat tali silaturahmi yang sudah berbeda-beda dan terkotak-kotakan.” tegasnya.

Oleh karen itu ia berharap gerakan ini terus bergulir secara periodik dan bertahap sesuai jadwal yang disepakati. “Kita akan agendakan gerakan ini secara terus menerus sampai merangkul semua elemen masyarakat, baik dari kalangan profesional, agamawan maupun para aktivis lainnya. Dan hari ini telah kita mulai sebagai langkah utama untuk mengadakan gerakan balad mengaji ini sampai ketempat-tempat lainnya yang kita akan jadwalkan.” pungkasnya.

Halaqah Ulama Banten sesi kedua akan digelar pada tanggal 13 Desember 2019 mendatang. Pada kesempatan tersebut rencananya akan ditandai dengan deklarasi GBM Provinsi Banten. GBM berupaya akan terus melakukan kegiatan rutin mingguan berupa pengajian dari kampung ke kampung, dari pesantren ke pesantren, menggelar diskusi dan pembahasan mengenai isu-isu sosial yang tengah hangat diperbincangkan di tengah masyarakat. [red/Imam]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *