Mencari Keadilan di Buku “Tak Seiman Tapi Sejalan”

patron.id – Serang, Sejumlah pemuda yang tergabung di Jaringan GUSDURian Banten menggelar bedah buku “Tak Seiman Tapi Sejalan” karya Saiful Haq, di Padepokan Kupi, Kaloran, Kota Serang. Sabtu malam (5/1/2019) pukul 20.00 WIB. Bedah buku tersebut dilakukan dalam rangka memperingati Haul Gus Dur ke 9.

Bedah buku langsung dibedah Saiful Haq selaku pengarang buku, ditemani Billy Setiyadi selaku pembanding dan Taufik Hidayat sebagai moderator yang merupakan Koordinator GUSDURian Banten.

Jaringan GUSDURian Banten Gelar Bedah Buku “Tak Seiman Tapi Sejalan” di Padepokan Kupi. [patron.id]

Dalam diskusinya, Saiful Haq mengatakan bahwa secara garis besar buku yang ditulisnya berkaitan dengan sikap Gus Dur terhadap perbedaan umat yang patut dicontoh oleh generasi anak muda demi kepentingan bersama. Menurutnya tak seiman bukan alasan untuk saling bertolak belakang, justru itu kekuatan untuk bersama-sama menemukan jalan kedamaian di dunia dan akhirat.

“Di dunia banyak temannya, di akhirat banyak yang doain. Kurang asik apa lagi? Gitu aja kok repot.” kata Saiful di sela-sela diskusi, sambil meniru gaya khas bicara Gus Dur.

Senada diungkapkan Billy Setiyadi, selaku pembanding di acara bedah buku. Ia mengungkapkan dialog di ruang-ruang publik harus diperbanyak agar bisa menjadi ruang persahabatan bagi warga negara untuk merasakan keadilan, seperti dikatakan Gus Dur bahwa perdamaian tanpa keadilan hanyalah ilusi.

“Menurut saya dialog di ruang-ruang publik seperti ini harus diperbanyak agar bisa menjadi ruang persahabatan bagi warga negara untuk menghasilkan keadilan, seperti yang dikatakan Gus Dur bahwa perdamaian tanpa keadilan hanyalah ilusi.” ungkapnya.

Sementara itu, Taufik Hidayat, selaku moderator sekaligus sebagai Koordinator Jaringan GUSDURian Banten, berharap haul Gus Dur Ke 9 yang dibingkai dengan bedah buku “Tak Seiman Tapi Sejalan” ini bisa menjadi ladang mencari keberkahan bagi para pecinta, pengagum, santri, murid sekaligus penerus perjuangan nilai-nilai Gus Dur.

“Dengan adanya diskursus bedah buku ini sebagai salah satu refleksi berfikir kita, arah gerak kita untuk terus bergelut dalam meneruskan napak tilas perjuangan Gus Dur.” pungkasnya.

Acara bedah buku ini juga dihadiri para penggerak komunitas di Jaringan GUSDURian tingkat kabupaten/kota, elemen masyarakat lintas agama, santri, mahasiswa, serta organisasi kemasyarakatan dan pemuda (OKP). Serta dimeriahkan pembacaan puisi oleh Uqel dan Fathul Rizkoh dari kalangan pemuda pegiat HAM dan Kemanusiaan. [red/Baihaki]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *