LP3ES dan INDEF selenggarakan Seminar Politik Uang

patron.id – Jakarta, H-9 perhelatan politik akbar Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), bekerjasama dengan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), selenggarakan Seminar Politik Uang dalam Pemilu 2019 di ITS Tower, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (8/4/2019).

Edward Aspinall, Narasumber penulis buku Democracy for Sale: elections, clientelism and the state in Indonesia. memaparkan Peta jalan bagi problem politik uang membutuhkan partisipasi tiga aktor

“Peta Jalan Problem politik uang yang menghantui peradaban kita membutuhkan partisipasi tiga aktor: elit, masyarakat sipil dan lembaga pemilu. Dari sisi elit, kita membutuhkan generasi elit politik yang berani hadir dengan politik programatik. Artinya mereka berani bertarung memenangkan pemilu bukan dengan menawarkan uang atau imbalan, namun menawarkan program. Masyarakat sipil juga perlu kuat dalam mengorganisir diri agar menjadi kekuatan yang mampu mendorong bagi berakhirnya klientelisme dan menggantinya dengan politik gagasan,” Paparnya

Ia menambahkan desain pemilu dari segi desain pemilu yang murah dan akuntabel

“Kita perlu mendesain sistem pemilu yang murah tanpa harus mengorbankan sisi keterwakilan dan akuntabilitas yang menjadi hal utama dalam demokrasi,” Pungkasnya

Untuk diketahui Seminar merupakan kegiatan ilmiah dan salah satu bentuk pengembangan ilmu yang menjadi concern LP3ES – dipandu oleh Prof Dr Didik J. Rachbini (Ketua Dewan Pengurus LP3ES) dengan narasumber Prof Edward Aspinall, Ph.D (Australia National University) – penulis buku Democracy for Sale: elections, clientelism and the state in Indonesia, Ward Berenschot, Ph.D (KITLV Belanda) – penulis buku Democracy for Sale: elections, clientelism and the state in Indonesia, Daniel Dhakidae, Ph.D – Pemimpin Redaksi Jurnal Prisma – LP3ES dan Wijayanto, Ph.D – Pengajar di Departemen Politik dan Pemerintahan (DPP) Universitas Diponegoro, Semarang Peraih gelar doktor dari Institute for Area Studies (IAS) Universitas Leiden, Belanda.[Red/Imam]

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *