Lomba Kritik Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Naif.

Oleh      : Aldi Madagi
NIM       : 161330066

Saya salut dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mengeluarkan kejantanannya dengan memfasilitasi rakyat lewat Agenda atau Kegiatan “Lomba penulisan Essay dengan tajuk Kritik DPR dan berhadiah sebuah sepedah motor”.

Kritik menurut KBBI adalah Kecaman, Tanggapan atau Kupasan kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik, buruk, terhadap suatu hasil karya, pendapat dan sebagainnya. jadi menurut pandangan saya mengkritik bukanlah mencederai dengan menonjolkan kejelekan atau kekurangan saja, melainkan mengkritik adalah krangka pemikiran yang dipaksa agar sepaham dengan pengkritik.

contohnya jika ada hal yang tidak sepaham dengan pemikiran sang pengkritik wajar bila akan terlontar Argumen Kritikan dari sang pengkritik, tetapi sebaliknya jika pemikiran itu sepaham tidak akan ada yang namanya kritikan sebab sudah sepaham. saya akan coba mengurai sedikit selaku penulis.

Sebutlah saya pribadi ingin mengkritisi karena sedang tidak sepaham dengan nalar pemikiran DPR yang melaksanakan Kegiatan Lomba Essay  dengan tajuk mengkritik DPR dan Berhadiah Sepedah Motor.

Barangkali memang cukup menggiurkan bagi rakyat Indonesia, tapi apakah rakyat tidak pernah berfikir bahwa DPR mengadakan hal seperti itu berdampak pada pola gerakan rakyat yang semakin melemah, karena orientasi rakyat menjadi sangat berbeda. Ya sebutlah orientasinya jadi sebuah hadiah bukan murni lahir atas dasar keresahan yang dirasakan rakyat.

Karena pada prinsipnya sejak awal kritik merupakan jalan menuju perbaikan atau perubahan atas kebijakan yang diambil oleh perwakilan rakyat. sementara hari ini kritik hanya dijadikan satu event perlombaan dengan orientasi pada the axe effect yakni perlombaan yang akan dimenangi oleh salah satu peserta pengkritik terbaik dan mendapatkan hadiah sepedah motor ala dilan. Hahahaha Naif bukan?

saya geli mendengarnya seolah-olah kritikan rakyat menjadi bahan lelucon DPR, dengan kehadiran Perlombaan seperti ini, suka atau tidak,  yakin atau tidak perlahan rakyat tidak akan ikhlas menuliskan kritikan, karena rakyat akan lupa tentang esensi dari kritikan itu sendiri. Belum lagi rakyat sudah tidak akan peduli terhadap dampak kritikan melainkan hanya peduli dengan hadiah sepedah motor, Semakin naif saya kira.

tidak seharusnya kritikan dijadikan sayembara yang orientasinya pada hadiah semata, jika pun ingin berbagi dengan rakyat lebih baik turun langsung dan bertatap muka dengan rakyat, rakyat tidak perlu uang, tidak perlu sembako, rakyat hanya butuh Perwakilannya menjalankan mandat dengan khidmat, jujuran dan mampu merasakan denyut nadi penderitaan rakyat dengan menjalankan pekerjaan negara sebaik mungkin.

Coba fikirkan jika DPR melaksanakan kegiatan Perlombaan Menulis Essay seperti ini dampaknya hanya beberapa orang saja bukan? mengetahui kegiatan ini dan belum tentu seluruh rakyat tau dan mau untuk turut andil menulis kritikan-kritikan, sementara di republik Indonesia yang kita cintai bersama ini masih banyak rakyat belum menikmati pendidikan layak.

saran saya ayo turun dan datangi rakyat jangan minta didatangi atau minta dikritik, pergoki kami, tengok kami, jangan mengklompokan konsituen dan bukan karena kita DPR adalah penerima mandat rakyat yang sah, selain itu DPR RI mengapa hanya memberikan hadiah sepedah motor itu hanya satu? Pekik rakyat dalam batinnya hahahahha ini lebih naïf lagi bukan.

Salam hangat dari langit kami yang terurai tanpa tirai.
Aldi madagi mahasiswa UIN SMH Banten.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *