Kalau Bukan Karena Tuntutan, Mungkin Takkan Pernah Tergerak

patron.id – Serang, Program baru yang diluncurkan oleh jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten pada mata kuliah QQWT (Qiraat Quran Wa Tahfidz) yaitu seluruh mahasiswa dituntut untuk menghafal satu juz awal selama satu semester penuh untuk memenuhi mata kuliah QQWT tersebut. Berbeda dengan tahun sebelumnya, hafalan hanya juz 30 saja (juz amma). Kamis, (20/06/19)

Mata kuliah yang diampu oleh Rita Desturiana ini, menjadi sebuah bibit awal untuk menciptakan generasi para penghafal quran, demi mewujudkan insan qurani pada diri mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam.

“Pada tahun sebelumnya QQWT ini hanya menghafal juz amma saja, tapi untuk semester ini dari pihak jurusan menginginkan hafalan satu juz awal, supaya anak-anak bisa dan terbiasa menghafal Al-Quran dan memiliki bekal setelah lulus dari sini,” ujar Rita.

Mahasiswa dituntut untuk menyelesaikan hafalan dalam 14 pertemuan pada setiap minggunya hingga akhir UAS nanti, sekaligus syarat untuk mengikuti Ujian Akhir Semester yaitu harus menyelesaikan hafalan satu juz.

Satu juz yang bisa dirincikan menjadi 10 lembar Al-Quran ataupun 20 muka, tentunya menjadi hal yang berat bagi mahasiswa untuk menyelesaikan hafalan dalam 14 pertemuan. Belum lagi menimbang adanya tugas lain dari mata kuliah yang lain, tentu mahasiswa harus pintar-pintar membagi waktu untuk menghafal dan juga kegiatan lainnya. Misal saja, satu muka dalam satu pertemuan, tentu saja akan kurang efektif dan sangat lambat sekali untuk menyelesaikannya, maka halafan dalam tiap pertemuan harus lebih dari satu muka.

Tapi itu semua tidak mematahkan semangat mahasiswa untuk terus menghafal Al-Quran di waktu senggang-nya maupun kapanpun untuk bisa menyelasaikan hafalan satu juznya dan juga bisa mengikuti Ujian Akhir Semester.

Tentunya dari paksaan ini dan juga tuntutan ini menimbulkan dampak positif bagi para mahasiswa, agar selalu ingat dengan Al-Quran. Entah itu hanya dengan membacanya saja, apalagi dengan menghafalnya. Menimbang pada zaman milenial ini manusia lebih disibukkan dengan gadgetnya ketimbang dengan Al-Qurannya.

[Red/Cj-M.Hafidh Maulady/Editor-Baehaki].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *