Kagok Hanyier, Pelopor Eksistensi Layangan Di Kota Serang

patron.id

 – “Kuambil buluh sebatang, Kuikat sama panjang, Ku raut dan ku timbang dengan benang, Kujadikan layang-layang.”

mungkin sebagian dari kita tidak asing lagi dengan lagu tersebut. Dimana lirik lagu itu merupakan kutipan dari lagu anak-anak berjudul “Layang-Layang”.

Terpintas dipikiran kita, bermain layang-layang sangatlah menyenangkan, terlebih menghabiskan waktu bersama teman dilapangan terbuka dengan angin sepoi-sepoi.

Beberapa dari kita tentu memiliki memori tak terlupakan ketika bermain layang-layang di masa kanak-kanak. Kini, Anda dapat sedikit mengenang permainan masa kecil tersebut sekaligus bermain layang-layang bersama komunitas “Kagok Hanyier,” di Kota Serang.

di sebuah bangunan yang digunakan sebagai tempat berkumpul dan menyimpan koleksi layangan di Perumahan Serang Hijau kota Serang, terpampang layang-layang dari berbagai motif gambar dan ukuran pada tiap dinding bangunan.

“kita berdiri tanggal 10 Maret 2018, dinamakan Kagok Hanyier. Kita mengartikannya kagok basah (terlanjur basah-red),” tutur anggota Kagok Hanyier, Ega sunanda.

Sembari mengenalkan dan memegang layang-layang ditangan, komunitas layang-layang Kagok Hanyier hanya menggunakan layangan kecil aduan yang biasa disebut “betbet” untuk wilayah Serang.

“Di Serang sendiri, layangan aduan disebut betbet. Ukurannya 52, 53, 54 cm,” imbuhnya.

Dengan beranggotakan enam orang, ia mengatakan komunitas layang-layang di kota Serang ini selalu mengedepankan asas kekeluargaan. Tanpa adanya ketua umum, Kagok Hanyier selalu menjunjung tinggi rasa kebersamaan antar anggota.

“Disini ga ada ketua, junior maupun senior. Paling kekeluargaan lah. No masteristy, noseniority, but solidarity,” kata Ega.

Karena permainan tradisional seperti layang-layang sudah jarang diminati, Ega mencoba untuk mempertahankan Eksistensi Layang-layang di kota Serang dengan rutin latihan menerbangkan layangannya di Malang Nengah Kelapa Dua, Citra Gading,dan Bayangkara.

“Biasa latihan, di kelapa dua jum’at sore jam3 sampe magrib. Minggu di Citra Gading, kalo ga disana, di Bayangkara,” ucapnya.

Dengan nada pelan dan menaruh harap, ia mengajak kepada masyarakat Banten untuk ikut serta melestarikan permainan tradisional menerbangkan layang-layang agar tidak luput dan usang oleh perkembangan zaman digitalisasi dewasa ini.

“sekarang ini kanjarang tuh anak kecil main layangan, semoga aja layang-layang ini jadi permainan yang bisa dimainkan semua kalangan,” tutupnya. [Red/Setiadi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *