GenBI Banten Ajak Korban Bencana Tsunami Selat Sunda Berwirausaha

patron.id – Pandeglang, Generasi Baru Indonesia (GenBI) Banten mengajak para korban bencana tsunami Selat Sunda untuk berwirausaha. Hal tersebut dilakukan dengan menggelar pelatihan pembuatan sandal bagi warga yang tinggal di hunian sementara desa Tunggal Jaya kecamatan Sumur, Pandeglang-Banten.

Peserta Pelatihan

Ketua Pelaksana Pelatihan Eko Romadona mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan berbasis ekonomi kreatif yang bekerjasama dengan Deallova, salah satu pengrajin alas kaki di Pandeglang, “Jadi yang ngajarin ibu-ibu peserta pelatihan itu dari mereka. Sebelumnya GenBI juga sudah sering menjalin kerjasama dengan Deallova. Makanya, kenapa tidak kita berkolaborasi kembali untuk majuin ekonomi masyarakat,” ujar Eko.

Proses Pembuatan Sepatu dan Sendal

Ia menjelaskan, pelatihan ini dilakukan dengan tujuan agar masyarakat korban bencana dapat memulihkan perekonomiannya secara mandiri, “Mereka kan rata rata nelayan, sedangkan perahu mereka setelah kena bencana itu hancur. Jadi untuk melaut lagi sulit, nah alternatif lain mereka kita ajak berwirausaha disini,” jelasnya.

Pelatihan ini dilaksanakan selama enam hari, mulai dari Senin (25/3) hingga Sabtu (31/3) yang melibatkan 20 orang warga sebagai peserta pelatihan, “Pesertanya ibu-ibu warga hunian sementara desa Tunggal Jaya dan warga desa Ketapang yang terdampak tsunami. Beberapa ada juga yang masih SMP dan SMA. Ada dua orang bapak-bapak tapi cuma ikut dua hari,” ujarnya.

Mahasiswa Ekonomi Syariah ini menambahkan, dari pelatihan tersebut setidaknya 8 orang peserta kini sudah mahir membuat sandal dan dinilai layak oleh instruktur untuk ikut memproduksi, “Setelah pelatihan ini, tindak lanjutnya kita akan kerjasama dengan Dinas Koperasi dan UMKM Pandeglang untuk membantu memasarkan produk yang dihasilkan oleh warga disini,” tambah Eko

Maksus Ketua Regional GenBI Banten, bersyukur atas kegiatannya yang bisa dilaksanakan dengan lancar. Ia juga menuturkan bahwa sebelumnya GenBI dari seluruh nusantara sempat menggalang donasi bersama GenBI Banten. Hal tersebut dilakukan sejak Desember lalu hingga Februari 2019. Kegiatan pelatihan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk kepedulian GenBI Banten, selain dari donasi bersama yang sudah disalurkan dalam bentuk barang, “Donasi yang berhasil kami kumpulkan, bekerjasama dengan GenBI seluruh nusantara itu terkumpul kurang kebih sebanyak 76 juta rupiah. Penyalurannya kami kemas dalam bentuk pelatihan dan pemberian 30 set alat produksi sandal dan barang kebutuhan sehari-hari masyarakat. Seperti rice cooker, setrika, dan sebagainya. Kalau ada masyarakat yang pengen jualan, kita juga fasilitasi mereka dari segi alat-alat dan perlengkapannya,” tutur Maksus.

Rencananya setelah ini GenBI juga akan memberikan jaring untuk warga yang ingin kembali menjadi nelayan, “Masih ada sisa dana, rencananya nanti mau beli jaring untuk warga yang mau jadi nelayan lagi,” ujarnya.

Sementara itu Ni’mah, salah satu peserta pelatihan mengaku senang dengan kegiatan yang diadakan oleh GenBI. Ia berharap kedepannya, hasil pelatihan ini dapat terus berlanjut hingga mereka bisa produksi secara mandiri, “Seneng banget dapet pelatihan, mudah-mudahan bisa lanjut, cepet bisa, dan lancar buat kedepannya,” ujar Ni’mah.

Senada dengan Ni’mah, Kepala Desa Tunggal Jaya Hutbi Wirawan sangat mengapresiasi kegiatan GenBI. Terlebih pada pelatihan di bidang ekonomi, menurutnya itu bisa membantu memulihkan perekonomian warga, “Saya apresiasi sekali kegiatan GenBI. pelatihan yang diberikan dari segi ekonomi sangat membantu, jadi nggak hanya sekedar menyumbangkan dari segi logistik,” ujar Hutbi.

Ia juga berharap setelah adanya pelatihan ini, usaha ekonomi kreatif yang dijalankan para peserta dapat berkembang pesat, “Semoga ibu-ibu yang dilatih ini berlanjut usahanya, bahkan sampe punya brand juga,” tuturnya.

Di sisi lain, instruktur pelatihan Rinie Harsonowati mengaku senang dengan adanya kegiatan ini. Pelatihan yang digagas oleh GenBI menurutnya sudah berhasil dan patut menjadi contoh, “Acaranya keren, terbilang sukses walaupun dengan keadaan yang sangat tidak memungkinkan untuk belajar, tapi GenBI berhasil menyulap hunian sementara ini menjadi tempat belajar yang layak,” ungkap Rinie.

Rinie menilai, para peserta pelatihan cukup hebat dan memiliki semangat untuk maju dan memperbaiki ekonomi pasca tsunami. Ia berharap agar pelatihan ini terus berlanjut dan ada pembinaan, minimal terus menjalin komunikasi dengan pihaknya. Sebab industri alas kaki di Indonesia masih minim, “Apalagi industri sepatu, itu masih sedikit sekali. Padahal di Banten ini sangat berpotensi, dan bahan-bahannya mudah didapat. Selain itu yang kami ajarkan bukan hanya membeli bahan baku di pabrik tetapi bisa menggunakan limbah. Kedepannya semoga bisa lebih maju dan kita tetap berkomunikasi,” tambahnya.

Selama enam hari mengajarkan para peserta untuk memproduksi sandal, Rinie mengaku menjadi lebih mengenal arti kekeluargaan. GenBI Banten menurutnya merupakan suatu komunitas kreatif yang para anggotanya sudah mampu berbaur dengan masyarakat, “Dengan GenBI saya jadi lebih mengenal arti kekeluargaan, kebersamaan, dan juga perjuangan. Karena ini sebenarnya berat banget. Kekreatifan mereka (GenBI-Red) semua muncul, mulai dari menyulap tempat ini jadi ruang belajar yang layak, mereka juga sopan, bisa ikut mengajarkan, berkomunikasi dengan baik, dan mampu berbaur dengan ibu-ibu,” tutur Rinie.

Rinie berharap, GenBI dapat terus bekerjasama dengan Deallova. Terutama dalam hal menebar kebermanfaatan. Ekonomi kreatif kata Rinie harus terus digaungkan untuk para korban tsunami, sehingga mereka mampu bangkit dan tidak melulu mengharapkan sumbangan dari para donatur, “Justru mereka mampu membalikkan opini masyarakat bahwa setelah ada musibah pasti ada keberkahan. Itu yang saya inginkan dari GenBI,” pungkasnya.

[Red/CJ – Reski Divisi Publikasi GenBI Banten, Editor Renna Aulia]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *