Aku Adalah Seorang Desainer Gratis Digital

Oleh : Si-Al

Seorang Desainer Gratis Amatir

“Tolong dong editin foto saya, kepalanya ganti pake kepala kuda, tangannya ganti pake sayap pesawat biar filosopinya sangat hebat.” Kata seorang teman yang memiliki obsesi pada foto instagramable

Itu adalah contoh ucapan yang sering didengar oleh pelaku Desain Grafis Digital, request nilai estetika yang terproteks oleh kemauan klien selalu membuat jenuh pelaku Desain Grafis Digital.

Aku sudah menekuni desain grafis digital selama kurun waktu 4 tahun, terhitung sejak tahun 2016 hingga kini 2020. Memang nasib tak selalu mulus. Pelaku desain grafis digital hingga kini masih belum tercium aroma ketentraman dalam hidupnya, apalagi yang menyandang gelar freelance, malah seringkali pekerjaan tersebut menjadi hal yang romantis diiringi kasih sayang dan belas kasih, kalo kata kawan ku yang menekuni bidang serupa, ia selalu mengatakan.

“Kita mah harus pura-pura mati dulu kalo di hadapan klien, biar mereka peka, kalo perut keroncongan, tenggorokan kekeringan.” Ungkapnya

Segelintir manusia mungkin kerap memandang pelaku desain grafis digital hanyalah orang bete, individualis atau orang yang tidak memiliki nilai seni tinggi khalayak pelaku seni lainnya.

Padahal desain grafis tumbuh dan besar seiring dengan adanya teori komunikasi visual dan banyak tokoh yang kerap mengkaji hal tersebut.

Apa bedanya Desain Grafis saja dengan Desain Grafis Digital? simpelnya kalo digital melewati perantara digitalisasi atau teknologi digital seperti komputer, kamera dan lain-lain, kalo desain grafis saja adalah pengertian umum untuk keseluruhan kerja-kerja mendesain.

Sedikit menjelaskan, desain grafis adalah proses komunikasi menggunakan elemen visual seperti tipografi, fotografi serta ilustrasi, yang dimaksud untuk menciptakan persepsi akan suatu pesan yang disampaikan. Bidang tersebut melibatkan komunikasi visual dan desain komunikasi. Desain grafis adalah pekerjaan membuat dan mengkombinasi simbol, gambar dan teks untuk membentuk representasi gagasan dan pesan secara visual.

Jika dikaitkan dengan seni, desain grafis juga termasuk seni, karena desain grafis menggunakan teknik tifografi, seni rupa dan tata letak halaman untuk membuat komposisi halaman. Maka dari itu pelaku desain grafis tidak bisa dibedakan dengan pelaku seni lainnya, soal tingkat keseniannya. Lagi pula pelaku seni pun tidak akan pernah membusungkan dadanya dan mengatakan bahwa dirinyalah yang paling seni diantara seni-seni yang lain.

Mungkin kebanyakan orang memandang seni terlihat dari praktiknya yang secara konvensional. Tidak seperti desain grafis digital yang praktiknya sudah terbilang modern atau menggunakan teknologi-teknologi yang lumayan canggih, tapi mau digital atau tidak, keduanya juga menurut ku masuk ke dalam seni, aku tak mau terlalu banyak mengambil kesimpulan soal seni, karena itu bukan permasalahan ku.

Memang sulit dan tak mudah sebagai Desainer Grafis Digital freelance seperti ku, tidak pernah mematok harga dari apa yang telah dikerjakan, ikhlas dan rela diintervensi demi melihat senyuman indah menghiasi bibir klien.

Mungkin sudah tak khayal, jika seseorang mengerjakan sesuatu dengan cara profesional, walau pun tak bergabung dengan instansi, ia harus mendapatkan timbal balik dari apa yang sudah dikerjakan, sedikitnya senyuman.

Karena menurut ku, penghargaan bukanlah seberapa banyak klien membayar seorang desainer dengan uang, tapi kebanyakan pelaku desain hanya mengharapkan karya seninya tidak diintervensi oleh orang lain, apalagi seorang yang freelance, tapi beda yah… dengan pelaku desain yang sudah tergabung dalam suatu lembaga atau instansi, mau tidak mau mereka harus memenuhi kebutuhan instansi atau lembaganya.

Baca Juga:  Makna Kartini Abad Ini

Dan sering kali terlintas di pikiran ku, saat karya ku diintervensi olehnya (klien), aku menginginkan harga mahal saat itu juga, karena kreatifitas dalam pikiran yang hendak ku tumpahkan dalam kerja-kerja desain tersebut sudah kandas termakan pikiran orang lain, tetapi lagi-lagi itu hanya pikiran, bukan tindakan.

Sesaat sesudah intervensi dalam karya ku berlangsung, seringkali aku merasakan kejenuhan yang amat hebat, saat aku mendengar kata ini.

“Nih… untuk ngopi, (Rp.20 ribu).” Selesai mengerjakan pekerjaan.

Saat kata itu terdengar, aku hanya membayangkan sedang menginjak-injak leher seorang klien di atas lantai, pasalnya nilai idealisme pemikiran ku sudah hilang karena banyaknya intervensi dari klien, bayaran pun tidak seberapa, sudahlah hancur lebur kehidupan pelaku desain grafis digital.

Desain gratis atau kerja gotong royong adalah ucapan aku dan kawan-kawan ku sesama pelaku desain grafis digital yang menyandang gelar freelance, saat pekerjaan yang menumpuk tapi tak membuahkan hasil, selain ngantuk dan lapar, yang sering dirasa.

Tapi hingga hari ini pribadi ku tidak mematok upah untuk orang-orang yang membutuhkan desain, karena bagaimana pun aku tidak sedang bekerja, tapi niat ku hanyalah sedang bekarya, jadi ya… semau aku, project desain tersebut harus digarap atau tidak, kalau lagi moodnya baik digarap, kalo enggak ya tinggalin aja.

Memang pekerjaan menjadi desain grafis digital bukanlah pekerjaan yang sangat suci atau sakral, tetapi banyak yang tidak menyadari bahwa produk dari desain grafis digital ada disetiap sendi kehidupan manusia, mulai dari pakaian yang kita kenakan, spanduk-spanduk yang bertebaran di jalan-jalan, hingga hal-hal kecil yang kita jumpai semisal, tulisan yang ada pada bungkus korek kuping pun adalah product dari desain grafis.

Sebelumnya, saat aku kuliah, dosen ku pernah berkata, kata-kata yang menurut ku sangatlah mencekam, mengkhawatirkan, hingga kini kata-kata itu masih terdengar jelas di telinga ku.

“Kalo mau jadi Desainer Grafis apalagi Digital , enggak harus kuliah, magang aja ke percetakan selama tiga bulan, kamu sudah bisa jadi Desainer Grafis Digital.” Ungkapnya

Tapi akhir-akhir ini aku sedang tertawa keasikan melihat almamater kampus ku menyelenggarakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Dalam Jaringan (Daring), peserta tersebut adik-adik kelas ku. Dalam pelaksanaan tersebut, kampus mengharuskan setiap mahasiswa mengelola sosial media untuk mengkampanyekan sesuatu hal dengan bentuk digital, lantas hari ini pun seluruh adik tingkat ku merasakan bagaimana kerja-kerja desain grafis atau memenuhi permintaan desain agenda tersebut.

Selain itu, saat awal KKN diberlakukan banyak mahasiswa yang menghubungi ku, untuk mengajarkan desain grafis, karena tidak mengerti dan baru pertama kali memegang tools desain grafis digital.

Semoga dari momen itu almamater kampus ku menyadari bahwa desain grafis berbasis digital tidak kalah penting dengan bayar SPP.

Semoga tulisan ini dapat mewakilkan hati dan perasaan para pelaku desain gratis digital.

Salam hangat dari ku dan seluruh tools yang sudah kelelahan melayani kepuasan visualisasi umat manusia.

Bagikan: